Kerajaan Cirebon

Kerajaan Cirebon. Kisah berganti mengenai asal mula terjadinya negara Carbon. Tersebutlah ada sebuah dusun di tepi telaga yang disebut Carbon, daerah sekitarnya masih tertutup semak belukar dan hutan. Ke arah selatan dari Carbon terdapat Gunung Careme, di lerengnya banyak kuda liar. Sementara di sungai banyak ikan dan rebon (udang kecil).

Pada tahun 1362 C/1445 M bermukimlah di Kebon Pasisir Carbon 4 orang dari Carbon Girang, yaitu Ki Danusela/Ki Gedeng Alang-alang dengan istrinya Nay Arumsari dan Ki Sarnawi dengan istrinya. Lima tahun kemudian datang Ki Somadullah/Walangsungsang/ Pangeran Cakrabuwana dengan istrinya Nay Indang Geulis, anak Ki Danuwarsih, dia kakak Danusela. Turut juga bersama mereka Nay Larasantang, adik sang pangeran.
Lama kelamaan banyak penduduk dari dusun Muhara Jati, Pasambangan, dan lainnya datang ke Carbon. Maka pada tahun 1367 C/1448 M Pangeran Cakrabuwana dibantu oleh penduduk lainnya mulai menebang hutan Kebon Pasisir untuk membuat pedusunan Carbon. Sementara itu keluarga Ki Gedeng Alang-alang dan Ki Somadullah jika malam hari mencari rebon dan ikan di sungai, untuk kemudian dibuat terasi, petis, dan garam.
Setelah penduduk semakin banyak bermukim di daerah itu, diresmikanlah dusun Carbon. Ki Pangalang-alang menjadi kuwu (kepala dusun), Somadullah menjadi raksabhumi dengan nama Cakrabhumi. Carbon menjadi pemukiman yang ramai, banyak orang yang datang berniaga atau bertani, mencari rebon atau ikan di laut, dan banyak perahu berlabuh membawa barang dagangan. 

Penduduk terdiri dari bermacam bangsa, bermacam anutan, bahasa dan tulisannya. Tahun 1369 C/ 1450 M penduduk yang bermukim di Carbon berjumlah 356 orang, mereka terdiri atas bermacam bangsa, yaitu Sunda, Jawa, Swarnabhumi, Hujungmendini, India, Parsi, Syam, Arab, dan Cina. Ki Somadullah lalu mengajarkan agama Islam pada penduduk, dan didirikanlah surau disebut Jalagrahan yang terletak di tepi laut.
Tersebutlah bahwa Ki Cakrabhumi dengan adiknya berkunjung ke Amparan Jati, tempat gurunya yaitu Seh Datuk Kahfi/ Seh Maulana Idlofi. Sang guru memberi petunjuk pada muridnya agar mereka berdua pergi ke Baitullah di Mekah, tapi istri Cakrabhumijangan diajak, sebab ia sedang hamil muda.
Mereka akhirnya pergi berlayar menuju Kerajaan Mesir, dan singgah di Jidah yang terletak di negeri Arab. Raja negeri itu bernama Syarif Abdullah /Sultan Makmun jatuh hati pada putri Pajajaran Nay Larasantang adik Cakrabhumi. Akhirnya ia dikawin oleh Sultan Makmun dan diberi julukan Sarifah Mudaim, kakaknya dijuluki Haji Abdullah Imam al-Jawi. Cakrabhumi lalu kembali ke Jawa, sementara adiknya tetap tinggal bersama suaminya. Sarifah Mudaim kemudian mempunyai anak bernama Syarif Hidayat.
Setelah Ki Gedeng Alang-alang meninggal, Cakrabhumi menjadi kuwu di Cirebon dengan gelar Pangeran Cakrabhuwana. Ia membuat istana Pakungwati, dan bala tentaranya lengkap persenjataanya. Mendengar hal itu raja Sunda lalu mengirim Tumenggung Jagabaya, ia membawa panji keprabhuan yang melambangkan kekuasaan daerah. Pangeran Cakrabhuwana dijadikan Tumenggung Carbon dengan gelar Sri Mangana.
Posting Komentar

Entri Populer