September 11, 2012
0
AMANAT GALUNGGUNG PRABU GURU DHARMASIKSA. Di tengah carut marutnya ekonomi dunia serta bertepatan dengan akan segera diselenggarakannya perhelatan demokrasi Pemilu 2009, perlu rasanya kita membawa memory kolektif untuk sejenak menengok kembali jauh ke masa silam. Masa dimana kemanusiaan masih diwarnai oleh kesejatian yang menjunjung tinggi dan memegang teguh nilai dan adab yang telah diwariskan oleh para karuhun dan pepunden.



Petuah dan pitutur yang diajarkan oleh para karuhun dan pepunden layak untuk dihadirkan kembali sebagai sebuah proses refleksi dan retrospeksi guna menemukan kembali nilai dan adab kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang saat ini telah tergerus oleh nafsu penghambaan keduniawian.



Kisah ini berawal dari Kerajaan Saunggalah I (Wilayah Kuningan sekarang) yang keberadaannya ditengarai sejak awal abad 8M seperti yang tercatat dalam naskah lama Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa dengan nama Saunggalah. Adalah Rahyang Sempakwaja Penguasa Galunggung, sang ayahanda, yang mendudukkan Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M) menjadi raja di Saunggalah I.

Penyebutan gelar Resiguru dalam sejarah Sunda hanya diberikan kepada tiga orang tokoh, yaitu Resiguru Manikmaya (Raja di Kendan, 536-568M), Resiguru Demunawan (di Saunggalah I/Kuningan, awal abad 8M) dan Resiguru Niskala Wastu Kancana (Raja di Kawali, 1371-1475M). Resiguru adalah gelar yang sangat terhormat bagi seorang raja yang telah membuat/menurunkan suatu “AJARAN” (philosophy grondslag, the way of live) yang menjadi pedoman hidup bagi keturunannya.
Dengan gelaran Resiguru yang disandangnya tentu Resiguru Demunawan pun menurunkan”AJARAN”-nya. Adalah seorang keturunannya yang kemudian menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, 122 tahun!) yang nantinya kemudian mengaktualisaksikan ajaran-ajaran karuhunnya.
Prabuguru Darmasiksa pertama kali memerintah di Saunggalah I (persisnya sekarang di desa Ciherang, Kec. Kadugede, Kab. Kuningan selama beberapa tahun) yang selanjutnya diserahkan kepada puteranya dari istrinya yang berasal dari Darma Agung, yang bernama Prabu Purana (Premana?).
Setelah Prabuguru Darmasiksa hijrah ke Saunggalah II (sekarang daerah Mangunreja di kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya), kerajaan lalu diserahkan kepada putranya yang bernama Prabu Ragasuci. Adapun Prabuguru Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Karajaan Sunda (Pakuan) sampai akhir hayatnya.
Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang kemudian berperan besar dalam mengkompilasi dasar-dasar pandangan Hidup/ajaran hidup berupa nasehat dan pitutur dalam suatu naskah tertulis. Naskah yang dikenal sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG atau disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) diidentifikasi sebagai KROPAK No.632, yang ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar dimana terdiri atas 12 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna. Naskah ini kemudian lebih dikenal sebagai “AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA”.
Amanat Prabuguru Darmasiksa dirangkum dari setiap halaman yang diberi nomor sesuai dengan terjemahan Saleh Danasasmita dkk, 1987.
Sistematika rangkuman tersebut terbagi dalam 4 point:
• Amanat yang bersifat pegangan hidup /cecekelan hirup.
• Amanat yang bersifat perilaku yang negatif (non etis) ditandai dengan kata penafikan “ulah” (jangan).
• Amanat yang bersifat perilaku yang positif (etis) ditandai dengan kata imperatif “kudu” (harus).
• Kandungan nilai, sebagai interpretasi penulis.
AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA

HALAMAN 1
Pegangan Hidup:

Prabu Darmasiksa menyebutkan lebih dulu 9 nama-nama raja leluhurnya.
Darmasiksa memberi amanat ini adalah sebagai nasihat kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya.
Kandungan Nilai:
Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus menghormati/mengetahui siapa para leluhur kita. Ini kesadaran akan sejarah diri.
Mengisyaratkan pula kesadaran untuk menjaga kualitas keturunannya dan seluruh insan-insan masyarakatnya.

HALAMAN 2
Pegangan Hidup:
Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.
Perilaku Yang Negatif:

Jangan merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus.
Jangan menikah dengan saudara.
Jangan membunuh yang tidak berdosa.
Jangan merampas hak orang lain.
Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah.
Jangan saling mencurigai.
Kandungan Nilai:
Sebagai suatu bangsa harus tetap waspada, tidak boleh lengah jangan sampai kekuasaan dan kemuliaan kita/Nusantara direbut/didominasi oleh orang asing.
Kebenaran bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diaktualisasikan.
Pernikahan dengan saudara dekat tidak sehat.
Segala sesuatu harus mengandung nilai moral.
Sumber
http://itempoeti.com/2009/01/amanat-galunggung-prabu-guru-dharmasiksa-bagian-1-dari-4/
Kisah ini berawal dari Kerajaan Saunggalah I (Wilayah Kuningan sekarang) yang keberadaannya ditengarai sejak awal abad 8M seperti yang tercatat dalam naskah lama Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa dengan nama Saunggalah. Adalah Rahyang Sempakwaja Penguasa Galunggung, sang ayahanda, yang mendudukkan Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M) menjadi raja di Saunggalah I.
Dengan gelaran Resiguru yang disandangnya tentu Resiguru Demunawan pun menurunkan”AJARAN”-nya. Adalah seorang keturunannya yang kemudian menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, 122 tahun!) yang nantinya kemudian mengaktualisaksikan ajaran-ajaran karuhunnya.
Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang kemudian berperan besar dalam mengkompilasi dasar-dasar pandangan Hidup/ajaran hidup berupa nasehat dan pitutur dalam suatu naskah tertulis. Naskah yang dikenal sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG atau disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) diidentifikasi sebagai KROPAK No.632, yang ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar dimana terdiri atas 12 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna. Naskah ini kemudian lebih dikenal sebagai “AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA”.
AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA

HALAMAN 3
Pegangan Hidup:

Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan).
Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun.
Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.
Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing.
Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya.
Perilaku Yang Negatif:

Jangan memarahi orang yang tidak bersalah.
Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.
Kandungan Nilai:
Tanah kabuyutan, tanah yang disakralkan, bisa dimaknai sebagai tanah air (ibu pertiwi).
Siapa yang bisa menjaga tanah airnya akan hidup bahagia.
Pertahankanlah eksistensi tanah air kita itu. Jangan sampai dikuasai orang asing.
Alangkah hinanya seorang anak bangsa, jauh lebih hina dan menjijikan dibandingkan dengan kulit musang -yang berbau busuk- yang tercampak di tempat sampah, bila anak bangsa tersebutsb tidak mampu mempertahankan tanah airnya.
Hidup harus memilikii etika.

HALAMAN 4
Pegangan Hidup:

Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.
Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.
Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk alang-alang yang memenuhi tegal.
Kandungan Nilai:
Hidup harus tunduk kepada aturan, termasuk mentaati “pantangan” diri sendiri. Ini menyiratkan bahwa manusia harus sadar hukum, bermoral dan tahu batas serta dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Orang yang moralnya rusak sulit diperbaiki, sebab terserang penyakit batin (hawa nafsunya), termasuk orang yang keras kepala.

HALAMAN 5
Pegangan Hidup:

Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya. Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung.
Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.
Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.
Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.
Semua yang dinasihatkan bagi kita semua ini adalah amanat dari Rakeyan Darmasiksa.
Kandungan Nilai:
Manusia harus rendah hati jangan angkuh.
Agama sebagai pegangan hidup harus ditegakkan.
Pengetahuan akan nilai-nilai peninggalan para leluhur harus didengar dan dilaksanakan.

HALAMAN 6
Pegangan Hidup:

Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.
Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:
- Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya;
- Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan.
- Ahli strategi akan unggul perangnya.
- Pertanian akan subur.
- Panjang umur.
SANG RAMA (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup.
SANG RESI (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan.
SANG PRABU (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan.
Perilaku Yang Negatif:

Jangan berebut kedudukan.
Jangan berebut penghasilan.
Jangan berebut hadiah.
Perilaku Yang Positif:
Harus bersama- sama mengerjakan kemuliaan, melalui: perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana.
Kandungan Nilai:
Seorang ayah/orang tua harus menjadi kebangagan puteranya/keturunannya.
Melaksanakan ajaran yang benar secara konsisten akan mewujudkan ketenteraman dan keadil-makmuran.
Bila tokoh yang tiga (Rama, Resi dan Prabu), biasa disebut dengan Tri Tangtu di Bumi (Tiga penentu di Dunia), berfungsi dengan baik, maka kehidupan pun akan sejahtera.
Hidup jangan serakah.
Kemuliaan itu akan tercapai bila dilandasi dengan tekad, ucap dan lampah yang baik dan benar.
Sumber:
http://itempoeti.com/2009/01/amanat-galunggung-prabu-guru-dharmasiksa-bagian-2-dari-4/
Sinopsis Pengantar
Kisah ini berawal dari Kerajaan Saunggalah I (Wilayah Kuningan sekarang) yang keberadaannya ditengarai sejak awal abad 8M seperti yang tercatat dalam naskah lama Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa dengan nama Saunggalah. Adalah Rahyang Sempakwaja Penguasa Galunggung, sang ayahanda, yang mendudukkan Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M) menjadi raja di Saunggalah I.
Dengan gelaran Resiguru yang disandangnya tentu Resiguru Demunawan pun menurunkan”AJARAN”-nya. Adalah seorang keturunannya yang kemudian menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, 122 tahun!) yang nantinya kemudian mengaktualisaksikan ajaran-ajaran karuhunnya.
Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang kemudian berperan besar dalam mengkompilasi dasar-dasar pandangan Hidup/ajaran hidup berupa nasehat dan pitutur dalam suatu naskah tertulis. Naskah yang dikenal sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG atau disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) diidentifikasi sebagai KROPAK No.632, yang ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar dimana terdiri atas 12 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna. Naskah ini kemudian lebih dikenal sebagai “AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA”.

HALAMAN 7
Pegangan Hidup:

Kita akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan agama/ajaran.
Kita akan menjadi orang terhormat/bangsawan bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahmi dengan sesama manusia.
Itulah manusia yang mulia.
Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan.
Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya.
Kita menjadi kaya karena kita bekerja, berhasil tapanya.
Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/tapa kita.
Perilaku Yang Positif:

Tekad, ucapan dan tindakan haruslah bijaksana.
Harus bersifat hakiki, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara.
Perilaku Yang Negatif:
Jangan berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan jangan berbicara mengada-ada.
Kandungan Nilai:
Manusia yang mulia itu adalah yang taat melaksanakan agama/ajaran dan mempererat silaturahmi dengan sesama orang.
Dalam pemahaman budaya Sunda, yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja/berkarya.
Etika dan tatakrama dalam bermasyarakat perlu digunakan.

HALAMAN 8
Pegangan Hidup:

Bila orang lain menyebut kerja kita jelek, yang harus disesali adalah diri kita sendiri.
Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.
Tidak benar pula bila kita bekerja hanya karena ingin dipuji orang.
Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu.
Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan.
Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri.
Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.

Perilaku Yang Positif:
Yang disebut berkemampuan itu adalah:
Harus cekatan, terampil, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, s perwira/berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan dan berani tampil. Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang BERHASIL TAPANYA, BENAR-BENAR KAYA, KESEMPURNAAN AMAL YANG MULIA.
Kandungan Nilai:
Manusia perlu inward looking untuk melakukan refleksi, introspeksi dan retrospeksi.
Jangan menyalahkan orang lain.
Berkerja harus ikhlas jangan karena ingin dipuji orang.
Orang yang mulia itu adalah orang yang bekerja/beramal/berkarya.
Kejujuran dan kebenaran ada di dalam diri pribadi, itu adalah hati nurani.
Manusia yang mulia itu adalah mereka yang mempunyai kualitas kemanusiaan prima.

HALAMAN 9
Pegangan Hidup:
Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.

Perilaku Yang Negatif:
Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung/barbarian, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalau berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hat, rumit mengesalkan, aib dan ista.
Kandungan Nilai:
Manusia perlu menyadari keadaan dirinya.
Jangan konsumtif tetapi harus produktif dan pro aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif.
Karater yang negatif membawa kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

HALAMAN 10
Pegangan Hidup:

Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.
Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.
Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.
Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.
Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.
Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.
Kandungan Nilai:
Minta dikasihani orang itu adalah tercela.
Manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, sehingga kualitas dirinya prima, seperti padi yang bernas.
Orang yang pongah, tidak berilmu dan berkarakter rendah tak ubahnya seperti padi hampa.
Sumber:
http://itempoeti.com/2009/01/amanat-galunggung-prabu-guru-dharmasiksa-bagian-3-dari-4/
Sinopsis Pengantar
Kisah ini berawal dari Kerajaan Saunggalah I (Wilayah Kuningan sekarang) yang keberadaannya ditengarai sejak awal abad 8M seperti yang tercatat dalam naskah lama Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa dengan nama Saunggalah. Adalah Rahyang Sempakwaja Penguasa Galunggung, sang ayahanda, yang mendudukkan Resiguru Demunawan kakak kandung Purbasora (Raja di Galuh 716-732M) menjadi raja di Saunggalah I.
Dengan gelaran Resiguru yang disandangnya tentu Resiguru Demunawan pun menurunkan”AJARAN”-nya. Adalah seorang keturunannya yang kemudian menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, 122 tahun!) yang nantinya kemudian mengaktualisaksikan ajaran-ajaran karuhunnya.
Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang kemudian berperan besar dalam mengkompilasi dasar-dasar pandangan Hidup/ajaran hidup berupa nasehat dan pitutur dalam suatu naskah tertulis. Naskah yang dikenal sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG atau disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) diidentifikasi sebagai KROPAK No.632, yang ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar dimana terdiri atas 12 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna. Naskah ini kemudian lebih dikenal sebagai “AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA”.

HALAMAN 11
Pegangan Hidup:

Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.
Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih pasangan, memilih hamba agar hati orang tua tidak tersakiti.
Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hidup tidak tersesat.
Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.
Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.
Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya.
Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.
Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.
Kandungan Nilai:
Orang berwatak rendah akan dibenci orang mungkin dibunuh orang, hidupnya tidak akan lama, namanya pun tidak dikenang orang dengan baik.
Hormatilah dan senangkanlah ahti orang tua.
Banyak bertanya agar hidup tidak tersesat.
Kesadaran akan waktu dan sejarah.
Kesadaran akan adanya “reward” yang harus diimbangi dengan jasa/kerja.

HALAMAN 12
Pegangan Hidup:

Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.
Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.
Ketidak-pastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.
Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak.
Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa.
Kandungan Nilai:
Pekerjaan yang sia-sia sama saja dengan tidak berkarya.
Tanpa berkarya tak akan tercapai cita-cita.
Ketidak tenteraman di masyarakat karena para cerdik pandai, birokrat dan orang-orang kaya salah dalam berperilaku dan bertindak.
Pandailah mengukur kemampuan diri, agar tidak sia-sia.

HALAMAN 13
Pegangan Hidup:

Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.
Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepada cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.
Teguh semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.
Kandungan nilai:

Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.
Senang akan keelokan/keindahan.
Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.
Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.
Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.
Inilah intisari naskah AMANAT DARI GALUNGGUNG (KROPAK 632), yang disebut dengan AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA. Tuntunan ajaran para karuhun dan pepunden yang harus dijiwai kembali oleh para anak bangsa dan menjadi bekal untuk mewujudkan Indonesia yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan.
Sumber:http://itempoeti.com/2009/01/amanat-galunggung-prabu-guru-dharmasiksa-bagian-4-dari-4/

0 comments: